Berita Terkini

Jasa Calo SIM di Kalianda Merajalela

Foto: Contoh SIM

KALIANDA (RO) – Gagal saat mengikuti uji praktik dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), tampaknya menjadi momok bagi bagi masyarakat.

Hal itu rupannya menjadi celah bagi sebagian orang untuk meraup keuntungan, dengan cara menawarkan jasa (Calo) pembuatan SIM tanpa syarat mengikuti tes dan ujian lainnya.

Meskipun keberadaan Calo itu dilarang, tampaknya hal tersebut tak berlaku bagi para oknum yang berada di Satuan Pelaksana Administrasi (Satpas) SIM, Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas), Polres Lampung Selatan.

Dari Informasi yang berhasil dirangkum media ini, praktik percaloan pembuatan SIM tersebut diduga masih terjadi di Satpas Polres setempat.

Informasi tersebut berhasil didapat langsung dari pengakuan salah satu Calo SIM di Kecamatan Kalianda. Dikatakannya, bahwa praktik tersebut dilakukan hanya untuk membantu para pemohon, yang memang pada saat itu tak bisa hadir untuk membuat SIM secara mandiri.

Sementara untuk tarif dalam proses pembuatan SIM C (Nembak), ia mengaku, para calo biasanya mematok harga sekitar Rp. 400 ribu sampai dengan Rp. 500 ribu. Hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk memuluskan proses pembuatan SIM tersebut.

"Kalo kita sih setornya Rp. 380 ribu ke orang dalam (Oknum.red). Pokoknya kita terima beres dan gak ribet, tapi si pemohon tetap datang ke lokasi untuk melakukan foto," ujar Calo yang namanya enggan disebut namanya, Kamis (26/11/2020).

Berbeda halnya jika pembuatan SIM tanpa Calo. Tarif resmi pembuatan SIM C saat ini hanya berkisar Rp. 100 ribu, sedangkan perpanjangan SIM C hanya Rp. 75 ribu, kemudian test psikologi Rp. 100 ribu dan surat keterangan sehat jasmani sebesar Rp. 30 ribu dan itupun hanya mendaptkan surat keterangan sehat saja tanpa perlu diperiksa.

Jika dilihat dari tarif resmi tersebut, pihak pemohon hanya perlu mengeluarkan uang sekitar Rp. 230 ribu, lalu mengikuti uji praktik berkendara. Artinya, bila dikalkulasikan dengan jumlah diatas, keuntungan oknum tersebut bisa mencapai Rp. 150 ribu hingga Rp. 250 ribu/SIM.

Persoalan itu tentu melanggar Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Menanggapi hal itu, Kepala Unit (Kanit) Regident Polres Lampung Selatan, Ipda Wahyu, menyangkal kabar tersebut. Menurutnya, petugas Satpas Polres setempat sudah menjalankan sesuai dengan aturan yang ada.

"Enggak ada bang, tidak benar info tersebut bang. Kita melaksanakan sesuai prosedur, bagi pembuatan SIM baru wajib mengikuti rangkaian ujian teori maupun praktek. Kecuali kalau perpanjangan, setelah pendaftaran hanya identifikasi ulang saja (foto dan sidik jari)," ujar Ipda Wahyu, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya.

Sedangkan untuk tes Psikologi, lanjut Wahyu, hal itu menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi pendaftar pembuat SIM maupun perpanjangan SIM. Namun keberadaan Psikologi tersebut menurut dia, merupakan kewenangan dari pihak ke tiga yang sebelumnya sudah di sertifikasi oleh biro psikologi.

"Untuk psikologi merupakan salah satu persyaratan sehat rohani yg tesnya kita bekerja sama dengan pihak ketiga yang sudah di sertifikasi oleh biro psikologi untuk menyelenggarakan tes psikologi bagi pendaftar SIM baru maupun perpanjangan," pugkasnya. (Red)

Sumber Asli

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button